Kajian Kenaikan BBM

Definisi BBM

Bahan bakar minyak ini adalah bahan bakar mineral cair yang di peroleh dari hasil tambang pengeboran sumur-sumur minyak, dan hasil kasar yang diperoleh disebut dengan minyak mentah atau crude oil. Hasil dari pengolahan minyak mentah ini akan menghasilkan bermacam-macam bahan bakar yang memiliki kualitas yang berbeda-beda. Minyak dalam hal ini merupakan bahan bakar yang di Indonesia pemakaiannya telah lama kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya, lebih banyak digunakan orang dengan istilah minyak tanah, yang artinya minyak yang dihasilkan dari dalam tanah. (R.P. Koesoemadinata 1980)
Berdasarkan asal-muasalnya yaitu dengan diketahuinya minyak tanah atau minyak mineral itu terdapat bersama-sama dengan gas alam, maka istilah yang lazim digunakan sekarang ini adalah minyak dan gas bumi dalam beberapa bahasa lain, misalnya : petroleum yag berasal dari kata “petro” yang berarti batu dan “oleum” yang berarti minyak. Jadi dengan kata lain petroleum berarti minyak yang berasal dari batu. Sebenarnya istilah minyak bumi lebih tepat digunakan sebab minyak terdapat dibumi dan bukan dalam tanah atau juga tepat apabila disebut sebagai minyak mentah, artinya minyak yang belum di kilang. Istilah lain yang biasa dipakai adalah natural gas atau gas alam. Apapun istilah lain minyak tanah yang dikenal sebai kerosin yaitu adalah salah satu hasil pengilangan minyak bumi, yang sering disebut juga minyak latung , latung berarti batu yang merupakan sama pengertiannya dengan petro-oleum. Dari sisi legalitas, telah ada aturan yang terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan energi yang merupakan pedoman dalam pemanfaatan energi di antaranya UU No. 30 Tahun 2007 tentang Energi. Sesuai UU No. 30 tahun 2007 tentang Energi, pengelolaan energi meliputi penyediaan pemanfaatan, dan pengusahaan harus dilaksanakan secara adil, berkelanjutan, rasional, optimal dan terpadu

Permasalahan terkait BBM (Bahan Bakar Minyak) di Indonesia

Hampir seluruh aktivitas masyarakat menjadikan BBM sebagai kebutuhan pokok. Pertalite, pertamax, dan premium merupakan tiga jenis BBM yang paling banyak digunakan di Indonesia. Sebagai jenis BBM dengan harga paling terjangkau, premium telah menjadi penyelamat bagi masyarakat menengah ke bawah. Sayangnya, ketersediaan premium sendiri lambat laun terus mengalami kelangkaan. Seolah menjawab keresahan masyarakat, Pemerintah meluncurkan pertalite pada 24 Juli 2015. Akan tetapi hal ini justru tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sejak adanya pertalite ini, premium benar-benar semakin menghilang dan membuat masyarakat terpaksa harus beralih. Padahal harga pertalite terus mengalami kenaikan secara perlahan bahkan tanpa adanya sosialisasi sebelumnya. Kenaikan ini diprediksi akan terus berlanjut hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.

Kronologi dari kenaikkan harga BBM (Pertalite)

Tepat pada hari Sabtu (24/3) PT. Pertamina mengumumkan harga BBM non subsidi. Harga BBM telah mengalami kenaikan secara bertahap pada 3 bulan pertama tahun 2018 . Januari lalu, harga pertalite naik sebesar Rp100,00 pada bulan Februari yang disusul kenaikan lagi sebesar Rp200,00 pada bulan Maret sehingga mencapai harga Rp7800,00 pada saat ini.

Sumber : http://www.pertamina.com/id/news-room/announcement/

Kenaikkan disebabkan oleh PT. Pertamina yang menyerahkan harga BBM ke mekanisme pasar dunia. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan, PT.Pertamina melakukan ini karena didorong dengan kebijakan Pemerintah yang tidak lagi memberikan bantuan dana subsidi ke PT. Pertamina agar harga BBM tetap stabil.
Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan kenaikan harga pertalite dipicu oleh tren menanjaknya harga minyak dunia yang saat ini telah berada diatas US$60 per barel. Sebagai pembanding, tahun lalu rata-rata harga minyak dunia masih dibawah US$60 per barel. Adiatma juga mengatakan bahwa Pertamina tidak khawatir kenaikan harga pertalite akan membuat masyarakat beralih ke BBM jenis premium, untuk wilayah diluar Jawa-Madura-Bali pemerintah menetapkan harganya hanya Rp6.450 per liter. Dikarenakan masyarakat sekarang sudah banyak yang beralih ke BBM yang memiliki Ron tinggi dengan menjaga performa mesin kendaraan. “sekarang masyarakat sudah cerdas, mereka kebanyakan menggunakan BBM beroktan tinggi”.

Sumber : www.seputarforex.com

Dengan melihat dari masyarakat sendiri apakah dapat dikatakan bahwa masyarakat akan memilih BBM beroktan tinggi, melihat dari kemampuan ekonomi dari masyarakat yang tergolong menengah ke bawah hal ini masih harus dipertimbangkan dengan naiknya harga BBM terutama pertalite ini. Premium memiliki nilai oktan 88, sedangkan Pertalite memiliki RON 90, Pertamax sebesar 92. dan Pertamax Plus sebesar 95. Nilai ini menunjukan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan.
Semakin tinggi nilai oktannya, maka BBM lebih lambat terbakar, sehingga tidak meninggalkan residu pada mesin yang bisa mengganggu kinerjanya. Bahan bakar beroktan tinggi cocok digunakan dengan kendaraan yang menggunakan kompresi tinggi

Dampak kenaikkan BBM

Jika kita kaitkan dengan pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”, Pemerintah telah melakukan kesalahan dengan melanggar peraturan tersebut dan terdapat indikasi bahwa pemerintah sudah tidak pro lagi terhadap rakyat mengenai BBM yang seharusnya dapat disubsidi ini. Kenaikkan ini menyebabkan banyak sekali permasalahan – permasalahan yang timbul di masyarakat seperti kenaikkan harga bahan pokok, sulitnya mencari laba dalam jasa transportasi, dan sebagainya. Lalu kemana partisipasi pemerintah dalam membantu upaya menyejahterakan rakyat ?

Kenaikan harga BBM ini berpotensi memicu terjadinya inflasi karena pendistribusian bahan-bahan pokok yang dilakukan tetap menggunakan BBM yang tersedia (Pertalite). Jika harga BBM mengalami kenaikan, maka biaya transportasi juga akan mengalami kenaikan dan hal tersebut dapat menyebabkan kenaikan harga bahan pokok di pasaran. Dampak lain yang juga dapat ditimbulkan adalah adanya kelangkaan BBM di daerah terpencil, karena berkurangnya minat penjual (warung kecil) untuk menyediakan stok BBM akibat tingginya harga BBM. Hal ini tentu sangat berdampak bagi masyarakat daerah terpencil karena akses yang sulit membuat mereka sulit untuk menjangkau SPBU secara langsung dan sangat membutuhkan adanya keberadaan BBM eceran untuk memudahkan. Kenaikan harga BBM juga berdampak pada meningkatnya APBN. Jika harga BBM mengalami kenaikan secara terus menerus akibat harga minyak dunia yang terus meningkat, hal tersebut tidak menutup kemungkinan APBN Indonesia juga akan naik.

Untuk saat ini mungkin belum begitu terasa, namun tidak menutup kemungkinan bahwa pertalite akan naik beberapa bulan kedepan dan berdampak lebih buruk lagi. dimana Pertalite ini akan semakin menjadi BBM yang harus digunakan untuk masyarakat. Melihat kepada orang – orang yang perekonomiannya tergolong menengah kebawah yang masih keberatan bahkan tidak mampu untuk membeli pertalite.

Subsidi yang belum tepat sasaran

Melihat dari sebelum langkanya premium, Subsidi yang diberikan oleh pemerintah ini kurang tepat sasaran dikarenakan masih banyak masyarakat yang tergolong mampu atau bahkan kendaraan berjenis mobil masih banyak menggunakan premium yang seharusnya mampu untuk membeli Pertamax / Pertalite. Seperti yang kita lihat antrian premium selalu penuh dengan mobil dan menyebabkan antrian yang panjang di setiap SPBU, hal ini dipicu dengan murahnya premium dibandingkan dengan BBM jenis lain pada saat itu dan keinginan masyarakat dalam memilih BBM yang lebih murah / bersubsidi.
Dengan melihat berdasarkan kajian, melihat bahwa BBM (Bahan Bakar Minyak) ini sudah mulai naik mengingat Premium dengann nilai Oktan 88 semakin langka dan Pertalite dengan nilai oktan 90 yang semakin naik harganya namun melihat dari sikap pemerintah yang tidak menyubsidi BBM ini dan menyerahkan harga minyak ke mekanisme harga minyak dunia. Tidak menutup kemungkinan harga BBM ini akan terus naik dengan kenaikkan ini, harga – harga bahan pokok akan ikut naik juga dan pendapatan pelayanan jasa transportasi akan mengalami penurun laba dan sebagainya. Dapat dilihat hal ini sudah sulit untuk ditanggulangi apabila pemerintah tidak ikut andil dalam masalah ini. Dan subsidi yang belum tepat sasaran.

Mengatasi hal itu kami menawarkan solusi untuk :

  • Memberikan Subsidi terhadapat BBM (Bahan Bakar Minyak) Pertalite karena premium mulai langka kini masyarakat harus beralih ke pertalite melihat masih banyak masyarakat yang membutuhkan BBM bersubsidi. Nilai RON pada pertalite sudah mencapai 90 dan hal ini dapat membantu Indonesia dalam upaya kesehatan lingkungan, persediaan seharusnya stabil karena pertalite ini menggantikan premium dan Pertalite termasuk BBM termurah apabila premium ini mengalami kelangkaan.
  • Menimbang pasal 33 ayat 3 UUD 1945 terkait energi di setiap kebijakan – kebijakan yang menyangkut BBM (Bahan Bakar Minyak), setiap kebijakan harus selalu dipertimbangkan untuk kepentingan umum.
  • Terkait dengan subsidi yang kurang tepat sasaran dengan mengalihkan seluruh mobil di SPBU untuk menggunakan Pertamax. Dikarenakan bahan bakar yang dibutuhkan mobil saat ini adalah yang memiliki RON 92 ke atas. Dan masyarakat yang memiliki mobil rata- rata adalah yang ekonomi kelas menengah ke atas.

Download : Drive